blackflag

*** UNDERJIHAD COMMUNITY ***

<<:>> Certainly they disbelieve who say: Surely Allah is the third (person) of the three; and there is no god but the one Allah, and if they desist not from what they say, a painful chastisement shall befall those among them who disbelieve. ( QS. Al Maidah : 73 )<<<<<<<<<<>>>>>>>>>> "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. (QS. Ali Imran Ayat 142) <<<<<<<<<<>>>>>>>>>> "Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata." (QS.Ash Shaff : 61)

June 22, 2009

Neoliberalisme di Indonesia

Filed under: Jihad News, Analysis, Internasional

Indonesia Lebih Neoliberal Dibandingkan AS

Menanggapi tulisan Adriansyah tentang “Indonesia masih jauh dari Neoliberalisme” (”PR”, 12/6) yang menyatakan “Apakah Indonesia sudah jatuh pada perangkap neoliberal, mutlak dipertanyakan.” Hanya dengan merujuk kepada survei Heritage Foundation (suatu think tank yang concern dengan ekonomi pasar bebas), menempatkan Indonesia pada kategori negara yang ekonominya tidak bebas, karena dianggap masih banyak regulasi di sektor perdagangan, tenaga kerja, permodalan, dan kepemilikan negara atas aset-aset publik.

Sebenarnya, corak pembangunan ekonomi Indonesia yang neoliberal sudah tidak ada dan meragukan lagi bahkan Soeharsono Sagir pun dalam opini Pikrian Rakyat (27/5) menyatakan “Menurut pendapat saya, negara kita bebas dari virus neoliberalisme, jika kita mampu mencapai fundamental ekonomi kuat dan berkelanjutan”. Oleh karena itu, pembangunan ekonomi Indonesia selama ini bukan saja bercorak neoliberalisme, tetapi justru malah lebih neoliberal dibandingkan dengan Amerika Serikat sendiri sebagai negara pengusung neoliberal.

Hal ini bisa kita lihat dari sikap yang disampaikan oleh Senator Byron Dorgan (senator dari North Dakota, AS), ketika ada keinginan dari BUMN Cina, CNOOC, untuk mengakuisisi perusahaan swasta nasionalnya yaitu UNOCAL. “Unocal berada di AS dan telah menghasilkan 1,75 miliar barel minyak. Sangat bodoh bila perusahaan ini menjadi milik asing.” Sikap penolakan AS ini, sebenarnya bertentangan dengan agenda neoliberal yang dikampanyekan AS sendiri. Akan tetapi, AS memandang dengan membiarkan Unocal menjadi milik asing merupakan tindakan bodoh yang akan mengancam keamanan nasional. Bagi AS, lebih baik menjilat ludah sendiri daripada menjual Unocal.

Bandingkan dengan kebijakan ekonomi Indonesia, yang sangat berani dan begitu mudah menjual BUMN-BUMN strategis kepada asing seperti Indosat. Begitu mudahnya pemerintah menyerahkan Blok Cepu kepada Exxon Mobile. Padahal, Pertamina sebagai BUMN mampu mengelola tambang minyak, yang memiliki cadangan sangat besar tersebut. Untuk melegalkan liberalisasi perekonomian Indonesia, DPR telah mengesahkan berbagai undang-undang seperti UU SDA, UU Migas, dan UU Penanaman Modal sangat liberal yang isinya antara lain: disamakannya kedudukan investor lokal dengan investor asing dalam seluruh bidang usaha, tidak ada pembedaan bidang usaha, melarang negara melakukan nasionalisasi, serta penyelesaian sengketa dengan investor asing dilakukan di arbitrase internasional bukan di pengadilan Indonesia.

Tentu bukan keputusan yang tepat bahkan cenderung tidak bertanggung jawab dan lari dari kenyataan, ketika melakukan privatisasi dengan alasan pengelolaan dan pengaturannya tidak efisien dan menjadi sarang korupsi. Justru yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah bagaimana BUMN tersebut, bisa efisien dan bebas dari koruptor-koruptor, sehingga bisa dijadikan sumber penerimaan negara untuk pembiayaan APBN dan pada akhirnya bisa menyejahterakan rakyat. Sebab, masalahnya bukan dikelola pemerintah atau swasta, tetapi efisensi dan terbebas dari korupsi. Tidak sedikit perusahaan yang dikelola swasta juga tidak efisien dan bebas dari korupsi.

Kekeliruan kedua, dari Andriansyah adalah persepsi ekonomi syariah. Kekeliruan ini sebenarnya tidak lepas juga dari pemahaman masyarakt umum yang salah tentang ekonomi syariah, seolah-olah hanya seputar lembaga keuangan sehingga muncullah persepsi ekonomi syariah itu sama dengan ekonomi kapitalis minus riba plus zakat dan akhlak.

Sistem ekonomi Islam, sebenarnya membahas dari hal yang sangat mendasar dalam perekonomian, yaitu masalah ekonomi di mana ekonomi Islam memandang bahwa masalah utama ekonomi terkait dengan distribusi kekayaan di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu, ada tiga prinsip dasar tentang ekonomi Islam: pertama, terkait dengan pengaturan kepemilikan, yaitu ada harta milik individu, milik umum seperti fasilitas umum, serta barang tambang yang melimpah, hutan, laut, sungai, dan sebagainya, maupun milik negara seperti gedung-gedung dan fasilitas negara.

Kedua, mengatur tentang pengelolaan harta yang dimiliki individu, umum, maupun negara. Harta yang terkategori sebagai milik umum dan milik negara, harus dikelola oleh negara dan menjadi sumber utama penerimaan negara yang digunakan untuk kesejahteraan rakyat. Dalam sistem ekonomi Islam, privatisasi barang milik publik merupakan kejahatan yang dilakukan negara.

Ketiga , mekanisme distribusi kekayaan untuk memenuhi kebutuhan pokok individu (sandang, pangan, papan) dan kebutuhan pokok masyarakat (pendidikan, kesehatan, dan keamanan). Untuk pemenuhan kebutuhan pokok individu, Islam memberikan kebebasan kepada pribadi untuk mendapatkannya sesuai dengan ketentuan-ketentuan syariah, sedangkan pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat menjadi tanggung jawab negara secara langsung. Oleh karena itu, dalam sistem ekonomi Islam, pendidikan gratis dan kesehatan gratis bukan komoditas politik untuk membohongi rakyat, tetapi satu kewajiban dari negara.*

Penulis, dosen Ekonomi Syariah Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis UPI dan Kandidat Doktor Bidang Ilmu Ekonomi Unpad.

Sumber : http://ayok.wordpress.com/2009/06/19/indonesia-lebih-neoliberal-dibandingkan-as/

Comments (0)

June 20, 2009

Wahabi dan Keluarga Nabi

Filed under: E-Learning, Jihad News, Analysis

Wahabi dan Keluarga Nabi

addthispub = ‘hurz000’; addthislogo = ‘http://www.addthis.com/images/yourlogo.png’; addthislogobackground = ‘EFEFFF’; addthislogocolor = ‘666699’; addthisbrand = ‘Arrahmah.com’; addthisoptions = ‘email, favorites, digg, delicious, myspace, facebook, google, live, technorati, more’; Share

Benarkah kaum wahabi membenci keluarga Nabi? Kita sering mendengar berita itu, tapi jarang dari kita yang mau bersikap kritis dan berani mengklarifikasi.

Dengan nama, kita bisa membedakan manusia satu dengan lainnya. ketika nama kita berbeda, kita bisa merasa kitalah yang dipanggil oleh teman. Tanpa nama, teman kita akan merasa kesulitan membedakan kita, dan sulit untuk memanggil kita dari kejauhan. Nama adalah faktor penting dalam kehidupan manusia

Nama yang indah adalah hiasan bagi seseorang, maka seluruh manusia –kafir ataupun mukmin- berusaha memilihkan nama yang indah bagi anak-anak mereka. nama-nama indah biasanya adalah nama-nama tokoh terkenal, juga nama yang dianggap memiliki nama indah. Ketika orang tua memilihkan nama seorang tokoh untuk anaknya, maka dia berharap anaknya menjadi seperti tokoh itu. 

Dan masalah nama faktor subyektifitas yang tinggi, karena nama-nama yang dipilih biasanya dianggap bagus oleh pemilik nama, jika seorang ayah memilihkan sebuah nama bagi anaknya, minimal si ayah memiliki anggapan bahwa nama itu bagus, meski di mata orang lain nama itu tidak memiliki makna atau bermakna buruk. Maka nama yang bagus bagi orang belum tentu bagus di mata orang lain. Nama yang indah bagi sebuah daerah belum tentu dianggap bagus oleh penduduk daerah lain. 

Juga bisa terjadi sebuah kasus di mana orang memberi nama anaknya dengan nama yang dianggapnya indah, namun dia tidak tahu bahwa nama itu ternyata memiliki makna yang buruk. Seandainya dia tahu nama itu bermakna buruk, maka dia pasti memilihkan nama lain untuk anaknya. Orang tidak akan memilihkan nama yang buruk bagi anaknya. Dalam hal ini keseluruhan manusia yang ada di dunia memiliki pandangan yang sama. Tidak ada orang yang sengaja memilihkan nama buruk bagi anaknya. Begitu juga sebaliknya, bisa jadi sebuah nama dianggap buruk bagi seseorang atau sebuah daerah, namun di daerah lain atau bagi orang lain nama itu dianggap nama yang indah. 

Maka kita bisa memahami jika teman-teman syi’ah memberi nama anaknya dengan nama-nama yang indah menurut mereka, seperti Jawad dan Kadzim. Dan memang nama-nama itu memiliki makna yang indah, seperti misalnya Jawad, dalam bahasa arab, nama jawad artinya kurang lebih suka memberi. Begitu juga kadzim artinya mampu menahan marah. Selain memiliki makna yang indah. Juga nama seperti Ali, Hasan dan Husein, yaitu dari nama tokoh yang mereka anggap sebagai imam. 

Tidak ada teman syi’ah yang senang dengan nama-nama “musuh” mereka seperti Abubakar dan Umar. Lalu bagaimana jika dia terlambat mengenal syi’ah lalu diberi nama dengan nama-nama yang dulu dianggap indah seperti Abubakar dan Umar? Ada yang tidak merubah nama itu, namun ada juga yang merubah namanya dengan nama yang lebih baik, seperti ada seseorang yang dulunya –ketika masih sunni- bernama Abubakar saya rasa tidak relevan jika kita tuliskan nama lengkapnya di sini lalu mengganti namanya menjadi Ali, dan dikenal dengan julukan daerah tempat dia tinggal. Di sisi lain, konon dari cerita-cerita yang beredar, ada juga temen syi’ah orang tuanya memilihkan nama Umar untuknya, saat itu dia belum mengenal syi’ah, tetapi setelah masuk syi’ah dia tidak mengganti namanya. 

Bahkan konon ada pepatah arab yang berbunyi: dari namamu aku tahu siapa ayahmu. Artinya dari nama yang dipilih untuk anaknya, kita bisa mengetahui kualitas orang tuanya. Orang tua yang ber”kualitas” tidak akan mungkin memilih nama sembarangan untuk anaknya. Seperti ketika kita mengenal anak bernama jawad, kita tahu bahwa orang tuanya mencintai imam Muhammad bin Ali Al Jawad, dan ingin agar anaknya menjadi seperti dia. Begitu juga ketika kita mengenal anak bernama kadzim, kita tahu si orang tua cinta pada imam Musa Al Kazhim. 

Orang-orang awam memberi namanya dengan nama-nama yang indah, begitu juga penganut syi’ah sendiri, maka para imam lebih mengetahui hal ini dan tidak mungkin memberi nama anak-anaknya dengan nama yang buruk, atau nama tokoh-tokoh musuh Islam dan musuh keluarganya sendiri. karena sudah pasti para imam itu –menurut keyakinan syi’ah- adalah maksum dan terbebas dari kesalahan dan kekeliruan serta sifat lupa. Masalah maksum ini adalah salah satu aksioma dalam mazhab syi’ah yang sudah “paten” dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Karena sifat maksum inilah teman-teman syi’ah menolak meyakini bahwa yang bermuka masam dalam surat “Abasa” adalah Rasulullah SAW. Karena nama-nama yang buruk adalah cerminan buruk bagi pemberi nama –dalam hal ini adalah ayah si anak yang merupakan imam ahlulbait-. Para imam adalah manusia-manusia suci yang terbebas dari keburukan. Pasti para imam memberi nama anak-anaknya dengan nama yang mereka anggap indah. 

Dalam sejarah yang ditulis oleh kitabkitab syi’ah sendiri- tercantum kenyataan bahwa Ali memberi nama anak-anaknya dengan nama-nama Abubakar, Umar dan Utsman. Tokoh-tokoh yang dianggap lebih kafir oleh syi’ah. Begitu juga imam Hasan dan Imam Husein memberi nama anaknya dengan nama Umar. Padahal Muhammad Baqir Al Majlisi seorang pakar hadits syiah menyatakan : 

saya katakan dalil yang menunjukkan bahwa Abubakar, Umar dan orang yang sejalan mereka dengan mereka adalah kafir, juga menunjukkan pahala melaknat dan memusuhi mereka, yang menunjukkan bid’ah mereka, terlalu banyak untuk disebutkan dalam satu jilid atau berjilid-jilid buku, apa yang telah kami nukilkan di atas cukup bagi orang yang diberi petunjuk Allah ke jalan yang lurus. Biharul Anwar jilid 30 hal 399.

Bukan hanya kafir, tapi harus dilaknat, dan melaknat Abubakar, Umar dan Utsman dan ahlussunnah mendatangkan pahala.

Ali Zainal Abidin memberi nama anak perempuannya dengan nama Aisyah, sebuah nama yang dibenci oleh syiah hari ini. Imam Hasan memberi nama anaknya dengan nama Thalhah .
Padahal Aisyah dan Thalhah di mata Khomeini –tokoh syi’ah hari ini- yang sering disebut oleh syi’ah dengan panggilan Imam Khomeini, adalah lebih buruk dari anjing dan babi:

Sedangkan seluruh kelompok nashibi bahkan khawarij, tidak ada dalil yang menunjukkan najisnya mereka meskipun mereka akan disiksa lebih pedih dari siksaan orang kafir. Jika ada seorang penguasa yang memberontak terhadap Amirul Mukminin tanpa alasan [keyakinan] agama [karena alasan dunia], tetapi karena ingin merebut kekuasaan, atau karena tujuan-tujuan lain. Seperti Aisyah, Zubair, Thalhah, Muawiyah dan yang lainnya. Atau yang memusuhi Ali dan salah satu dari para imam tanpa alasan keyakinan agama, tetapi karena memusuhi suku Quraisy, atau Bani Hasyim, atau membenci bangsa arab, atau karena [imam] telah membunuh ayahnya atau anaknya, atau sebab lainnya, semua itu tidak mengakibatkan status najis secara zhahir, meskipun mereka [hakekatnya] lebih buruk dari anjing dan babi, karena tidak ada dalil dari hadits maupun ijma’ tentang hal itu [najisnya nashibi secara zhahir].Kitab Thaharah jilid 3 hal 457. 

Ali memang mencintai Abubakar, Umar dan Utsman, maka Ali memilih nama-nama mereka untuk anaknya. Sebagaimana syi’ah hari ini memberi nama anaknya dengan nama kadzim dan jawad karena cinta mereka pada Imam Kadzim dan Jawad, Ali memberi nama anaknya dengan Abubakar dan Umar karena kecintaannya pada mereka. Begitu pula imam Hasan dan Husein, yang jelas maksum dan lebih mengenal sejarah dibanding syi’ah hari ini, karena mereka adalah pelaku sejarah. 

Ini bisa dilihat dalam Kasyful Ghummah jilid 2 hal 334, I’lamul Wara karya Thabrasi, begitu juga dalam kitab Al Irsyad karya Al Mufid.

Kita sudah terbiasa untuk menelan segala berita yang ada mentah-mentah, tanpa menggunakan lagi sikap kritis untuk menilai sebuah berita. Ini bisa jadi karena berita itu begitu sering kita dengar, akhirnya kita tidak merasa perlu lagi untuk klarifikasi dan tabayun. Meskipun berita itu kita dengar dari orang-orang yang mungkin nampak valid, namun kita masih harus bersikap kritis dan meneliti lagi. Di antara yang sering kita dengar adalah klaim bahwa Muhammad bin Abdul Wahab adalah membenci ahlulbait. Seperti pembaca juga, saya pun sering mendengar berita-berita itu. Tapi saya mencoba melangkah lebih jauh dari sekedar percaya, saya mencoba bersikap kritis dan mencari tahu tentang hal itu. 

Ternyata Muhammad bin Abdul Wahab memberi nama anaknya dengan nama-nama keluarga Nabi, yaitu Ali, Fatimah, Hasan dan Husein. Ini tercantum dalam kitab Ad Durar As Saniyyah cetakan pertama dari Darul Ifta’ jilid 19 hal 12, begitu juga kitab Ulama Najd karya Al Bassam jilid 1 hal 155. Sebagaimana temen-temen syi’ah memberi nama anaknya dengan Kadzim karena cinta pada imam Musa Al Kadzim, begitu juga Muhammad bin Abdul Wahhab memberi nama anaknya dengan Ali, Fatimah, Hasan dan Husein karena cintanya pada mereka.

Source: hakekat.com

Comments (0)